Seorang wanita berusia 55 tahun
masuk ruang pemeriksaan sebab terserang penyakit gagal jantung kronis yang
membuat jantungnya terhenti.
Rekan-rekanku menghubungiku dan
memintaku agar segera melihat kondisi wanita tersebut. Saat itu jam 7 pagi.
Lantas aku bergegas ke ruang pemeriksaan dengan harapan semoga Allah
menyembuhkan wanita tersebut melalui usahaku. Ketika aku tiba, ternyata
jantungnya sudah berhenti berdetak. Maka aku segera melarikannya ke bagian alat
pacu jantung agar detak jantungnya kembali normal.
Disaat dilakukannya pemicuan dan
rangsangan detak jantung, walau alat pengukur detak jantung menunjukkan detak
jantung berhenti, namun aku menyaksikan suatu kejadian aneh yang belum pernah
aku lihat sebelumnya.
Tahukah anda kejadian apakah itu ?
Tiba-tiba wanita itu tersadar dan
membuka kedua matanya bahkan ia dapat berbicara. Tetapi tahukah anda apa yang
ia bicarakan ? Apakah dia berteriak, atau mengadu, atau meminta pertolongan,
atau bertanya dimana suami dan anak-anaknya, atau berbicara tentang perkara
yang berkaitan dengan urusan dunia?
Demi Allah tidak. Tetapi kalimat
pertama yang aku dengar adalah kalimat tauhid yang agung : “Asyhadu alla ilaha
ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh”
Kemudian apalagi? Apa kira-kira
menurut anda ?
Jantungnya kembali berhenti dan alat
pengukur detak jantung kembali berbunyi menandakan bahwa jantungnya kembali
berhenti. Aku kembali berusaha untuk memicu denyut jantungnya. Dan
subhanallah….peristiwa itu kembali berulang. Ia membuka kedua matanya dan
kembali mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu alla ilaha ilallah wa
asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh”.
Dapatkah anda mempercayaiku bahwa
peristiwa ini terjadi berulang-ulang di depan mataku dan jantungnya berhenti
tiga kali lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku tidak mendengar
ucapan yang lain, tidak rintihan, tidak pengaduan dan tidak juga meminta benda
dunia.
Aku hanya mendengar dzikir kepada
Allah dan kalimat syahadat.
Setelah Ia meninggal-semoga Allah
merahmatinya-aku melihat peristiwa aneh…wajah wanita itu memancarkan
cahaya…apakah anda mempercayaiku ? Demi Allah yang tiada Tuhan yang berhak
disembah selain Dia, wajahnya bersinar. Sungguh aku melihat cahaya yang
memancar…demikianlah akhir dari hayat wanita tersebut.
Abu Mush’ab-semoga allah
mengampuninya-berkata, “Ini merupakan tanda-tanda kematian yang baik insya
allah”. Sesungguhnya allah berfirman,
“Allah meneguhkan (iman)orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat”. (Q.S. Ibrahim:27)
Ini termasuk keteguhan yang
diberikan Allah kepadanya yaitu mengucapkan syahadatain ketika sedang sekarat.
Dalam sebuah hadits shohih yang
diriwayatkan oleh abu Daud dan ahmad dari Mu’ad bin Jabal bahwa Rosulullah bersabda,
“Barangsiapa akhir ucapannya di
dunia, La ilaaha illallah maka ia akan masuk syurga”
Kemudian tanda yang lain yaitu sinar
dan cahaya yang memancar dari wajahnya. Pada hadits Thalhah bin Ubaidillah
ketika dia sakit yang dijenguk Umar, dalam hadits tersebut disebutkan, “aku
mendengar ucapan Rosulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk bertanya
tentangnya selama aku masih mampu bertanya.”
Aku mendengar beliau bersabda,
“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat jika diucapkan oleh seorang hamba
ketika meninggal niscaya tubuhnya bersinar, Allah akan melepaskannya dari
siksaan”.
Umar berkata, “Sesungguhnya aku juga
tahu kalimat itu”.
Thalhah mengatakan, “coba sebutkan
kalimat tersebut”.
Umar berkata, “tidakkah engkau
mengetahui kalimat agung yang diperintahkan Nabi kepada pamannya agar diucapkan
ketika meninggal? Yaitu kalimat ”la ilaha ilallah”.
Thalhah berkata, “Kamu benar. Demi
allah itulah kalimatnya”.
Dalilnya adalah ucapan Umar,
“Bercahaya tubuh-nya”
Inilah yang disaksikan langsung oleh
saudara Khalid setelah wanita itu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Sejahteralah untuknya. Dan kita berdo’a Allah menganugrahkan kita husnul
khotimah (kematian yang baik).
Tetapi apakah kisah ini sampai
disini? Jawabnya tidak. Doktor Khalid melanjutkan kisahnya, “….kemudian aku
keluar menghibur suaminya. Aku lihat suaminya adalah seorang yang sederhana
memakai pakaian sederhana, agaknya ia seorang fakir. Lalu aku membantu,
menghibur, dan menganjurkan agar mengingat Allah. Aku melihat dirinya pasrah,
mengucapkan istirja dan ridho atas ketentuan Allah dan aku juga melihat di
wajahnya terbersit sinar keimanan dan ketaatan.
Aku bertanya kepadanya, “Wahai
saudaraku yang mulia…ada peristiwa yang aneh terjadi pada istri anda, bahkan
merupakan kabar gembira. Alhamdulillah, namun aku ingin bertanya, bagaimana
keadaanya sewaktu hidup dan apa yang ia amalkan ? ”
Dengan tersenyum ia menceritakan
dengan lancar, bahwa semasa istrinya hidup aku tidak pernah melihatnya
meninggalkan sholat witir dan tahajud kecuali ketika ia jatuh sakit atau sedang
udzur.
Aku berkata dalam hati, “Untuk
kemenangan seperti inilah yang harus diusahakan oleh orang-orang yang beramal,
benar….sholat malam, tahukah anda apa itu sholat malam ? sesungguhnya ini
merupakan kemuliaan orang mukmin sebagaimana yang disebutkan dalam hadits
shohih tentang jibril. Dan ini juga mereka karakter orang-orang sholih sebelum
kita”
Allah berfirman,
“Mereka sedikit sekali tidur di
waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
(Q.s. Adz-Dzariyat:17-18)
Jika malam menjelang mereka bangun
di pertengahannya,
Malam pergi sementara mereka sedang
rukuk.
Perasaan takut memupuskan rasa
kantuk lalu bangun beribadah,
Adapun mereka yang merasa tenang
terhadap dunia terus mendengkur.
Dibawah kegelapan mereka rukuk
Rintihan membuat lapang tulang
rusuk.
Maha benar Allah dalam firrnaNnya,
“Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Robb-Nya dengan rasa takut dan harap,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.
Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu
(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”(Q.S. As-Sajdah:16-17)
Kita bermohon kepada Allah semoga
memberi kita taufik untuk melakukan sholat malam, amalan shalih dan husnul
khatimah.
(Taken from: Muhammad bin Shalih
al-Qahthani.Serial kisah teladan kumpulan kisah-kisah nyata. Darul Haq.
Jakarta)