Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al Baqarah: 186)
Perhatikan kalimat ujiibu da’wata ad-da’i idza da’aani yang secara harfiah berarti “Aku menjawab do’a orang yang berdo’a jika ia berdo’a kepadaKu”. Kata da’wata pada ayat di atas maksudnya adalah do’a. Karena da’wah dan do’a berasal dari akar kata yang sama, da’aa -yad’uu-du’aan wa da’watan. Dalam perkembangannya, da’wah lebih sering diartikan seruan, ajakan, dan undangan. Sementara do’a lebih dimaknai sebagai permohonan. Karena difahami secara terpisah, kadang-kadang dalam berdakwah kita lupa untuk berdo’a khususnya mendo’akan hidayah bagi obyek da’wah.
Mari kita lihat proses islamnya Umar. Adalah Umar bin Khattab yang semula berniat membunuh Rasulullah SAW langsung berbalik ke rumah Fatimah binti Khattab dan suaminya Zaid bin Sa’id ketika mendengar keduanya telah mengikuti ajaran Muhammad SAW. Tanpa tedeng aling-aling, Umar menghajar keduanya sampai muka adiknya ber-darah2. Namun keduanya bergeming, tetap bertahan dengan keyakinannya. Tersentuh, akhirnya Umar minta izin untuk melihat shahifah di tangan adiknya yang berisi awal Surat Thaha:
Thaaha; Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy (QS 20: 1-5).
Sejenak setelah membaca ayat ini, Umar berkata, “Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini”. Khabbab bin Al ‘Arts yang tadinya bersembunyi langsung keluar dan berkata: “Wahai Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar Nabi berdo’a: “Allahumma ayyid al islama bi Abil Hakam bin Hisyam aw Umar bin Khattab” (Ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam atau Umar bin Khattab).Umar berkata: “Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya mau menemuinya dan akan masuk Islam”. Khabbab pun segera mengantar Umar ke rumah Al Arqam di Shafa, lalu Umar mengucapkan syahadatain di depan Rasulullah SAW.
Dengan tidak mengesampingkan faktor hidayah yang merupakan hak prerogatif Allah SWT, ternyata Umar bin Khattab masuk Islam sehari setelah Rasulullah berdo’a agar salah satu dari orang kuat Quraisy ini masuk dalam barisan Islam.
Contoh lain, dalam riwayat Imam Ahmad yang bersumber dari Abu Umamah diceritakan bahwa seorang anak muda menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Izinkan saya berzina”. Orang-orang pun ramai mencaci-makinya. Nabi berkata, “Mendekatlah”. Pemuda itu mendekat, lalu terjadilah dialog:
Nabi : “Sukakah engkau jika ibumu berzina?”
Pemuda: “Tidak, demi Allah yang menjadikan diriku tebusanmu”
Nabi : “Orang lain juga tidak suka jika ibunya berzina”.
Nabi : “Sukakah engkau kalau anak perempuanmu yang berzina?”.
Pemuda: “Tidak, demi Allah”.
Nabi : “Orang lain pun tidak akan senang kalau anak perempuan mereka berzina”.
Nabi : “Sukakah engkau kalau saudara perempuanmu berzina?”
Pemuda: “Tidak, demi Allah”.
Nabi : “Demikian juga orang lain, mereka tidak akan senang kalau saudaranya berzina”.
Ber-turut2 Nabi SAW menanyakan pendapat pemuda itu jika yang berzina adalah saudara perempuan ayah atau ibunya, pemuda itu pun selalu menjawab, “Tidak, demi Allah”. Nabi pun membalas, “Orang lain pun tentu tidak suka”. Lalu Nabi meletakkan tangannya di ubun-ubun pemuda itu dan berdo’a: “Allahummaghfir dzanbahu wa thahhir qalbahu wa hashshin farjahu” (Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan peliharalah kemaluannya). Sejak saat itu, pemuda itu tidak pernah berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT.
Di samping da’wah bil hikmah wal mau’izhatil hasanah yang menyentuh akal dan perasaan, Rasulullah juga mendo’akan obyek dakwahnya agar senantiasa berada dalam hidayah. Bukan menakuti-nakuti dengan sanksi, misalnya mengatakan, “Kalau kamu berzina, siap-siap lah dicambuk 100 kali atau dirajam sampai mati”. Meski pun hal tersebut termaktub dalam Kitabullah dan As-sunah.
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah. (Al Ahzaab: 21).
Perhatikan kalimat ujiibu da’wata ad-da’i idza da’aani yang secara harfiah berarti “Aku menjawab do’a orang yang berdo’a jika ia berdo’a kepadaKu”. Kata da’wata pada ayat di atas maksudnya adalah do’a. Karena da’wah dan do’a berasal dari akar kata yang sama, da’aa -yad’uu-du’aan wa da’watan. Dalam perkembangannya, da’wah lebih sering diartikan seruan, ajakan, dan undangan. Sementara do’a lebih dimaknai sebagai permohonan. Karena difahami secara terpisah, kadang-kadang dalam berdakwah kita lupa untuk berdo’a khususnya mendo’akan hidayah bagi obyek da’wah.
Mari kita lihat proses islamnya Umar. Adalah Umar bin Khattab yang semula berniat membunuh Rasulullah SAW langsung berbalik ke rumah Fatimah binti Khattab dan suaminya Zaid bin Sa’id ketika mendengar keduanya telah mengikuti ajaran Muhammad SAW. Tanpa tedeng aling-aling, Umar menghajar keduanya sampai muka adiknya ber-darah2. Namun keduanya bergeming, tetap bertahan dengan keyakinannya. Tersentuh, akhirnya Umar minta izin untuk melihat shahifah di tangan adiknya yang berisi awal Surat Thaha:
Thaaha; Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy (QS 20: 1-5).
Sejenak setelah membaca ayat ini, Umar berkata, “Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini”. Khabbab bin Al ‘Arts yang tadinya bersembunyi langsung keluar dan berkata: “Wahai Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar Nabi berdo’a: “Allahumma ayyid al islama bi Abil Hakam bin Hisyam aw Umar bin Khattab” (Ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam atau Umar bin Khattab).Umar berkata: “Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya mau menemuinya dan akan masuk Islam”. Khabbab pun segera mengantar Umar ke rumah Al Arqam di Shafa, lalu Umar mengucapkan syahadatain di depan Rasulullah SAW.
Dengan tidak mengesampingkan faktor hidayah yang merupakan hak prerogatif Allah SWT, ternyata Umar bin Khattab masuk Islam sehari setelah Rasulullah berdo’a agar salah satu dari orang kuat Quraisy ini masuk dalam barisan Islam.
Contoh lain, dalam riwayat Imam Ahmad yang bersumber dari Abu Umamah diceritakan bahwa seorang anak muda menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Izinkan saya berzina”. Orang-orang pun ramai mencaci-makinya. Nabi berkata, “Mendekatlah”. Pemuda itu mendekat, lalu terjadilah dialog:
Nabi : “Sukakah engkau jika ibumu berzina?”
Pemuda: “Tidak, demi Allah yang menjadikan diriku tebusanmu”
Nabi : “Orang lain juga tidak suka jika ibunya berzina”.
Nabi : “Sukakah engkau kalau anak perempuanmu yang berzina?”.
Pemuda: “Tidak, demi Allah”.
Nabi : “Orang lain pun tidak akan senang kalau anak perempuan mereka berzina”.
Nabi : “Sukakah engkau kalau saudara perempuanmu berzina?”
Pemuda: “Tidak, demi Allah”.
Nabi : “Demikian juga orang lain, mereka tidak akan senang kalau saudaranya berzina”.
Ber-turut2 Nabi SAW menanyakan pendapat pemuda itu jika yang berzina adalah saudara perempuan ayah atau ibunya, pemuda itu pun selalu menjawab, “Tidak, demi Allah”. Nabi pun membalas, “Orang lain pun tentu tidak suka”. Lalu Nabi meletakkan tangannya di ubun-ubun pemuda itu dan berdo’a: “Allahummaghfir dzanbahu wa thahhir qalbahu wa hashshin farjahu” (Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan peliharalah kemaluannya). Sejak saat itu, pemuda itu tidak pernah berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT.
Di samping da’wah bil hikmah wal mau’izhatil hasanah yang menyentuh akal dan perasaan, Rasulullah juga mendo’akan obyek dakwahnya agar senantiasa berada dalam hidayah. Bukan menakuti-nakuti dengan sanksi, misalnya mengatakan, “Kalau kamu berzina, siap-siap lah dicambuk 100 kali atau dirajam sampai mati”. Meski pun hal tersebut termaktub dalam Kitabullah dan As-sunah.
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah. (Al Ahzaab: 21).